Friday, June 22, 2007

= st1 ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" />Jakarta= o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" />

Getting there

By air there are connections from all over the world with jakarta’s Soekarno-Hatta International Airport located 12 km northwest of the city. Taxi fare into town is $15; there is also a regular AC airport bus service to downtown for $2.

By sea Pelni passenger ferries visit Tanjung Priok docks from all parts of Indonesia. Non-Pelni boats also take passengers; contact them at the harbour master’s office. There is also 24-hr ferry service from Bakauheni, Sumatra, to Merak, 140 km west of Jakarta; journey time 2 hrs.

It is also possible to go by ferry from Batan and Bintan, the two Indonesian Islands situated close to Singapore. Pelni services ply between these islands and Sumatra, as well as Jakarta and Surabaya.

Accommodation/dinning

There is a range of accommodation from the large international chains to the very inexpensive traveller’s’ losmen on Jl Jaksa, in the city centre near Monas square, but not much in the mid range for tourists. There is a very wide range of dining options: international standart (and price)! Restaurants through to roadside food stalls.

Transport

Bus very cheap but hot, cramped, crowded and dilapidated. Standard fare is about IDR 2,500. smaller Patas buses are slightly more expensive at IDR 6,000, but less crowded and stop anywhere. City bus route maps are (sometimes) available at theVisitor information centre in Djakarta Theatre building on Jl Thamrin. Pickpockets and bag slashers are a common hazard on buses. If you carrying expensive binoculars and cameras you will do much better to travel by taxi or hire a car.

Taxis plentiful, and can be flagged down anywhere. Fares are fairly cheap by international standards. AC flagfall is IDR 5,000, IDR 5,000/km thereafter; make sure the meter is on.

Car rental: many companies now offer both chauffer-driven (CD) cars with driver and gas included, as wel as self-drive (SD) cars. CD daily rates (12 hrs) range from $60 (kijang van) to $126 (Corola sedan); SD daily rates include insurance minus $50 deductible, range from $47 (kijang van) to $85 (corolla sedan).

General Information

Tourist Office Visitor Information Centre (for maps you can see google earth/maps and wikimapia)

Friday, May 25, 2007

Burung-burung Maluku: Taman Nasional Manusela

Burung-burung maluku

Taman nasional Manusela

Dalam pencarian eloknya burung-burung beo

Seram, disebut juga “pulau ibu” yang dipercaya oleh penduduk setempat sebagai asal mereka. Pulau ini paling besar di kepulauan maluku. Pulau ini memanjang sampai 340 km dari timur hingga ke barat, luasnya 17.470 km persegi, 3 kalinya pulau Bali. Pada akhir abad 20 Pulau Seram adalah Pulau yang masih misteri dan penuh petualangan dengan gunung-gunungnya yang menantang, hutan yang luas dan isinya penuh rahasia.
Untuk para pencinta beo, Seram adalah tempat yang menjanjikan. Di sini dapat dijumpai 11 jenis burung beo termasuk diantaranya 2 jenis yang hanya dapat ditemukan di Ambon dan satunya lagi di Ambon dan Seram: 2 diantara 3 jenis beo ini adalah yang paling elok di Indonesia atau mungkin di dunia. Jenis-jenis beo itu adalah Burung Kakatua maluku (Cacatua moluccensis) dan si cerdas, burung kasturi (Lorius domicella).
Untuk para pencinta burung yang menggemari ekologi tropis, taman nasional Manusela (1.890 km persegi) yang membelakangi dari pusat pulau ini sangat menarik diantarnya adanya keindahan Gunung Binaya, lokasi terdapatnya batu besar dan tebing-tebing yang curam. Taman nasional ini juga terdapat beraneka ragam habitat yang dimulai dari mangrove, hutan rawa-rawa yang didominasi nipa, daerah rawa-rawa air tawar dan hutan dataran rendah hingga hutan hujan pegunungan.
Sayangnya Pulau Seram ini kurang bisa memberikan lebih pada kekayaan alamnya. Walaupun sudah menjadi taman nasional sejak tahun 1982 yang kemudian dilakukan ekspedisi ilmiah Raleigh di tahun 1987, Taman Nasional Manusela (artinya burung kebebasan) masih belum memiliki fasilitas yang memadai sebagai taman nasional. Sebagai acungan jempol untuk taman ini yaitu terdapatnya 21 burung endemik. Untuk dapat melihatnya harus butuh waktu yang banyak, bersedia menjelajahi hutan, kadang-kadang harus menghadapi Lumpur atau terpaan hujan, lumut dan mampu bertahan hidup untuk beberapa hari dengan makan nasi atau mi saja.
Rute-rute perjalanan
Ada jalan yang melintas taman nasional dari wahai di pantai utara sampai mosso atau hatumete di selatan. Dapat ditempuh dengan mengambil jalan lain tetapi harus mendaki (sangat ekstrem). Penduduk sekitar menamakan tempat itu sebagai “ jalur sedih”, dulunya di waktu penjajahan sebagai jalur pengungsian. Jadi untuk memulai perjalanan dipilih jalur yang terbaik dari wahai. 5 hari perjalanan, jalan melintasi pulau, melalui jalan melingkar sampai ke lembah Manusela. Disitu akan menjumpai penduduk asli “orang-orang Alifuru” dan kembali ke pantai utara lewat punggung bukit Kobipoto, atau turun ke lembah sungai Isal.

Wednesday, May 23, 2007

Mangsa Burung-burung Pantai

Mangsa burung-burung pantai

Dari keterangan sebelumnya dapat secara jelas dikatakan bahwa komposisi fisik sedimen mempengaruhi jumlah burung-burung pantai dalam pencarian makanannya, hanya area tertentu sajalah burung-burung pantai tertarik untuk singgah pada pantai berlumpur sedangkan pantai yang lain kadang tidak disinggahi. Rahasianya terletak pada keberadaan sejumlah ocypode/ketam kecil, macam-macam udang, anakan ikan, cacing polychaete dan kerang berkulit ganda kecil yang dijadikan sebagai makanan utama burung-burung pantai dan sayngnya persebaran makanan ini di pantai tidak merata. perbedaan jenis-jenis hewan-hewan lumpur ini hanya dapat benar-benar dijelaskan dari penyelidikan secara langsung ( Swennen dan Marteijn 1985). Dimana tempat ketersediaan hewan-hewan kecil pantai yang sesuai, kepadatannya, ukurannya, kemampuan hewan-hewan kecil pantai ini menembus substrate lumpur ( Myers 1980)
Daerah pasang surut, angin dan tingkat gangguan mempengaruhi pada kepadatan dan ketersediaan hewan-hewan kecil pantai ini, dan oleh karena itulah mengapa pantai-pantai tersebut hanya didatangi oleh burung-burung pantai pada waktu-waktu tertentu saja(Evans 1976; Grant 1984). Hewan-hewan kecil pantai yang terlempar karena gerakan burung-burung pantai dan pergerakan udang-udang kecil sewaktu berenang dengan mudah terlihat oleh burung-burung pantai, dengan demikian memudahkan mereka dalam memakannya (Pienkowski 1983), beberapa burung-burung pantai tidak menggunakan kemampuan visualnya mereka menggunakan paruh yang sensitive dalam pencarian mangsanya didalam substrat Lumpur. Burung trinil adalah salah satu burung-burung pantai yang memiliki tipe seperti ini. Burung ini menjauhi Lumpur yang berpasir karena ukurannya yang hampir sama dengan cacing polycheta dan oligochaeta (0,5-1 mm) (Quammen 1982)

Tuesday, May 22, 2007

Burung-burung pantai di Sulawesi

Burung-burung pantai di Sulawesi

sebagai tambahan sebanyak 4 spesies burung-burung pantai sulawesi yang sudah berhasil terdata, sedikitnya 34 jenis burung-burung pantai ini berkunjung ke sulawesi sebanyak dua kali setiap tahunnya. Mereka dapat terlihat antara bulan februari dan april dan antara bulan September dan November, dalam perjalanannya ke dan dari tempat berkembangbiak di timur laut asia dan timur asia dan juga karena musim dingin. Mereka menuju baratdaya Australia ( White 1975) antara februari dan april dan kembali antara bulan September-November. Burung-Burung ini sering ditemui di tanah yang berlumpur dibandingan di pantai yang berpasir.
Sedikit sekali pengetahuan tentang pergerakan burung-burung ini di Indonesia dan ini menjadikan pertanyaan yang mendasar selama tigapuluh tahun yang lalu hingga kini hampir tak terjawab. yaitu: apakah rute burung-burung pantai ini merupakan rute migrasi yang normal? Berapa populasi burung-burung yang melakukan migrasi ( commons de ruiter 1954)? Para ornitholgist dari interwader (organisasi internasional yang meneliti burung-burung pantai melakukan studi pertama kali pada burung-burung ini di tahun 1986), dari dua area perairan berlumpur yang dikunjungi yaitu teluk utara bone, dan pantai utara-selatan watampone. bagian utara terdapat hutan bakau yang luas tetapi lumpurnya agak berpasir dan oleh karena itu tidak cocok untuk jenis-jenis burung pantai. Satu perkecualian pada muara yang berlumpur di sungai balease ditemukan sedikitnya 18 jenis burung-burung pantai yang terlihat, empat spesies diantaranya adalah burung yang baru ditambahkan dari jumlah total 34 spesies itu. Pantai di sekitar watampone lebih sedikit pasir dibanding di bagian utara walaupun dapat dijumpai lebih banyak burung-burung pantai tetapi memiliki sedikit spesies burung-burung pantai ( Uttley 1986)
Sumber : ecology of sulawesi 2002

Monday, May 21, 2007

Burung-burung di Garis Wallacea

Burung-burung di Garis Wallacea

Di sulawesi terdapat 332 spesies burung diantaranya 92 (27%) adalah spesies endemic, 81 (25%) adalah burung migrasi (White 1974, 1976, 1977; White and Bruce 1986). Spesies-spesies baru yang belum sempat diketahui saat ini sedang dibuat (Escott and Holmes 1980; Watling 1983). Diantara buruing-burung itu, sebanyak 17 genus adalah endemic sulawesi yang tersebar di sulawesi diantaranya sejumlah besar burung spektakuler pemakan serangga/madu 9 (Meropogon forsteni), burung Rangkok besar (Rhyticeros cassidix), Jalak sulawesi (Basilornis celebenis), dan jalak berparuh pipit (Scissirostrum dubium) yang mana bersarang di lubang-lubang yang dibuatnya dengan cara mengebor pada pohon-pohon pada pohon-pohon yang sudah mati. Burung yang paling dikenal baik di sulawesi adalah maleo (Macrocephalon maleo) yang unik dari burung ini yaitu cara mengerami telurnya yang ditimbun di dalam lubang yang digali oleh burung-burung dewasa.

Bibliography
White, C.W.M. 1974. three water birds of wallacea. Bill. Brit. Orn.
1976. Migration of Paleartic waders in Wallacea. Emu
1977. Migration of Paleartic passerine birds in Wallace. Emu
And Bruce, M. 1986. the Birds of Wallacea. Checklist No 7 British Ornithologist Union
Escott, J.J. and Holmes, D.A. 1980. the avifauna of sulawesi. Indonesia: faunistic notes and additions. Bull. Britt. Orn
Wattling, R.J. 1983. Ornithological. Notes from sulawesi. Emu
Whitten, T. Henderson, G.S, Mustafa, M. 2002. Ecology of Sulawesi. Periplush Publishing. Singapore

Friday, April 20, 2007

Birds Indonesia

Burung Indonesia

Sebuah panduan bagi para pengamat burung dunia di negara kepulauan terbesar dunia.
Burung-burung Indonesia
Keanekaragaman di persimpangan dunia Oriental dan Australasia
Indonesia memiliki 17% dari seluruh jenis-jenis burung di dunia, sehingga sudah seharusnya mereka akrab dengan keberadaan burung itu sendiri, dan tak perlu dijadikan sebagai kegiatan liburan yang mengasyikan. Pada kenyataannya tidak seperti itu. 1539 jenis burung menjadi angka-angka yang tak berarti di wilayah Indonesia karena tempat habitatnya yang beraneka ragam, berbeda-beda wilayahnya dan berada di pulau-pulau. Untuk mengetahui jenis-jenis burung-burung di Indonesia, membatasi bidang pengetahuan adalah kunci untuk dapat mengenali burung yang akan diidentifikasi. Pengetahuan gambaran biogeografi pola-pola penyebaran burung-burung Indonesia penting untuk dipahami. Pengetahuan ini nantinya dapat dipakai sebagai rencana perjalanan yang akan dilalui dalam pengamatan burung. Burung-burung di dunia memiliki 5 kelompok besar, 2 diantaranya terdapat di Indonesia yaitu faunal Oriental dan Australasia. (diterjemahkan oleh Yusnu Iman Nurhakim)
Artikel ini diambil dari Jepson, P, dkk, 1997, Birding Indonesia, Periplus Editions. Singapore